Rabu, 18 Desember 2013

Strategi Pemodelan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Published by SMASA on Rabu, 18 Desember 2013  | No comments

Strategi Pemodelan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Oleh: Drs. Jarimin, M.Pd.
(Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Bondowoso)

            
  Kepiawaian seorang guru dalam mengelola pembelajaran sangat berpengaruh terhadap berhasilnya pencapaian kompetensi dasar kajian tertentu dan kompetensi berbahasa siswa. Kemampuan berbahasa siswa adalah kemampuan siswa dalam mengorganisasikan pemikiran, keinginan, ide, pendapat,  atau gagasan dalam bahasa lisan maupun tulis (Santoso, dkk. 2008:5.18). Dryden (2002:10) menambahkan bahwa belajar akan efektif kalau siswa dalam keadaan Fun. Fun adalah keadaan yang berkaitan dengan emosi positif. Hal ini akan melapangkan jalan pikiran seseorang termasuk siswa dalam mendayagunakan segala potensi yang dimilikinya secara optimal. Hal ini yang harus ada dan muncul dalam setiap pembelajaran. Siswa perlu dibuat bersungguh-sungguh, terlibat, dan asyik dalam melakukan sesuatu. Variasi teknik pembelajaran perlu dilakukan oleh guru dalam mengantisipasi berbagai permasalahan pembelajaran yang dilakukannya.
            Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi. Karena itu pembelajaran bahasa bertujuan meningkatkan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) sebagai sarana komunikasi. Pembelajaran bahasa juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, serta memperluas wawasan. Di samping itu, pembelajaran bahasa juga ditujukan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa sehingga siswa tidak hanya mampu memahami informasi yang disajikan secara langsung tetapi juga yang disajikan secara tidak langsung. Sejalan dengan hal itu, Dawud, dkk (2004) berpendapat bahwa pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebaiknya diisi oleh kegiatan melatih siswa  membaca sebanyak-banyak, menulis sebanyak-banyak, berdiskusi sebanyak-banyaknya, dan mendengarkan sebanyak-banyaknya. Dengan begitu kelas pembelajaran bahasa Indonesia diisi oleh kegiatan aktif dan kreatif berbahasa Indonesia nyata.
    Agar komunikasi seseorang siswa lancar, maka keempat keterampilan berbahasa itu harus dilatihkan kepada siswa. Semakin banyak dan semakin sering berlatih, siswa akan semakin lancar dan semakin baik komunikasinya. Semakin sering dan semakin tinggi derajad latihan menulisnya, siswa akan semakin berbobot hasil tulisannya. Demikian juga aspek keterampilan berbahasa yang lainnya. Oleh karena itu pembelajaran bahasa harus dilaksanakan sesuai dengan hakikat bahasa tersebut.
    Pelaksanaan pembelajaran bahasa harus terpadu. Terpadu dengan tujuan, bahan, kegiatan belajar mengajar, dan wadah pembelajaran. Terpadu dengan tujuan maksudnya tujuan pengajaran bahasa Indonesia secara umum diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi harus didukung oleh kemampuan siswa dalam menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Pembelajaran yang berfokus pada kebahasaan, penggunaan, pemahaman, dan apresiasi sastra harus diarahkan juga untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berbahasa dengan baik dan benar.
    Pembelajaran bahasa harus terpadu dalam konteks kegiatan pembelajaran tertentu. Suatu pembelajaran yang berfokus pada salah satu aspek keterampilan berbahasa, kebahasaan, atau sastra, dalam pelaksanaannya terdapat kegiatan menyimak, kegiatan berbicara, kegiatan menulis, dan terdapat kegiatan membaca yang dilaksanakan secara terpadu. Keterpaduan antaraspek keterampilan berbahasa ini mutlak diperlukan dalam memfasilitasi siswa mengembangkan kemampuan berbahasanya.
            Selanjutnya kajian keterampilan berbahasa pada kajian ini dtekankan pada aspek keterampilan berbahasa menulis. Nurchasanah, 1994 mengatakan bahwa kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diperoleh secara otomatis. Kemampuan itu bukan dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran. Seseorang yang mendapatkan pembelajaran menulis pun belum tentu menjamin memilki kompetensi menulis yang handal. Kompetensi menulis hanya dapat dicapai dengan jalan banyak berlatih.
            Ukuran kompetensi menulis seseorang (siswa) dalam pembelajaran di antaranya adalah keruntutan pola pikir tulisannya, ketepatan diksinya, ketepatan penggunaan kalimat dan kaidahnya, kekoherensian dan kekohesifan paragrafnya, serta ketepatan penggunaan unsur mekanik dalam tulisannya. Permasalahan ini akan teratasi dengan baik jika siswa berlatih dan beraktivitas menulis secara maksimal dan aktivitasnya itu melalui tahapan menulis yang tepat.
    Pemodelan berarti hal yang berkaitan dengan model atau contoh, pola, atau acuan. Soemanto (2006:215)  menjelaskan bahwa pemodelan atau modeling adalah suatu bentuk belajar yang mengikuti kelakuan orang lain sebagai model. Modeling dapat dipakai untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan akademik dan motorik. Konsep tersebut dapat dimaknai bahwa pemodelan adalah kegiatan belajar dengan cara menyaksikan tingkah laku orang lain. Dalam aktivitas pemodelan, guru akan mendemonstrasikan atau memberi contoh mengenai cara melakukan suatu keterampilan, sedangkan siswa akan mengobservasi dan meniru tingkah laku guru. Selanjutnya, Nurhadi (2002:16) memberi penjelasan bahwa dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya.
    Ada dua jenis pemodelan menurut  Asrori (2007:24), yaitu model langsung dan model simbolik. Model langsung berarti seseorang meniru perilaku orang lain secara langsung kepada subjek yang ditiru. Misalnya, anak-anak perempuan meniru pekerjaan yang dilakukan ibunya dengan tujuan kelak setelah besar mampu melakukan tugas sebagaimana yang dilakukan oleh ibunya. Model simbolik diartikan seseorang meniru orang lain melalui perantaraan simbol atau media. Misalnya, seorang siswa SMP meniru perilaku remaja sebagaimana yang dilihat di sinetron TV, dalam buku cerita, gambar, kartun, film, dan berbagai media masa lainnya, baik cetak maupun elektronik.
    Sebagai sebuah strategi pembelajaran menulis paragraf deskripsi, pemodelan mensyaratkan guru untuk menampilkan contoh tulisan paragraf deskriptif, lalu memberikan contoh cara membuatnya dengan baik. Contoh yang diberikan ini mulai dari menentukan topik, menyusun kerangka karangan, membuat draf karangan, mengembangkan kerangka karangan, merevisi, dan menyunting, sampai pada membuat karangan jadi dalam bentuk paragraf deskripsi. Guru yang menjadi model dalam konteks ini menurut Asrori (2007:26), harus seorang guru yang berkualitas. Yang berkualitas artinya guru yang mampu menampilkan contoh dan cara menulis paragraf deskripsi dengan baik. Guru model disyaratkan demikian karena guru ini akan menjadi model dan ditiru oleh siswa. Guru yang berkualitas adalah guru yang memiliki kompetensi sebagaimana diharapkan oleh Permendikanas Nomor 16 Tahun 2007, yakni guru yang memiliki kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dalam hal guru menjadi model pada pembelajaran menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskripsi ini, guru hendaknya memenuhi kompetensi pedagogis dalam menyajikan pembelajaran dan kompetensi professional dalam menguasai materi pembelajaran.
    Sebagai sebuah strategi dan teknik pembelajaran yang berbeda dari strategi dan teknik pembelajaran yang lainnya, pemodelan memiliki ciri-ciri tertentu. Ada dua ciri yang terdapat dalam strategi pemodelan, yaitu: (1) ada model yang akan ditiru oleh siswa, dan (2) ada proses peniruan oleh siswa. Mengenai ciri pertama, model yang akan ditiru dapat berupa benda dan dapat pula berupa tindakan. Model yang berupa benda, meliputi contoh karangan ilmiah, contoh prosa, contoh puisi, dan lain-lain. Model yang berupa tindakan, meliputi contoh menulis cerpen, contoh menulis puisi, contoh menulis surat, contoh menulis karya ilmiah, dan lain-lain. Model ini tidak harus dilakukan atau ditunjukkan oleh guru sendiri. Kalau memang guru tidak mampu memberi contoh yang ideal, maka guru boleh menghadirkan orang lain dari luar sekolah. Misalnya, guru mengundang seorang sastrawan ke sekolah untuk memberikan contoh cara membacakan puisi.
    Sebagai sebuah teknik pembelajaran, tentu pemodelan itu akan menjadi sebuah proses yang memiliki ciri-ciri pemodelan. Sehubungan dengan prosesi itu, Bandura (dalam Dahar, 1988:34) menerangkan tahap-tahap itu sebagai belajar dalam pemodelan. Tahap-tahap itu disebutnya fase. Fase belajar yang dimaksudkan secara herarkis dimulai dari peristiwa pemodelan yang diteruskan pada: (1) fase perhatian (attentional phase), (2) fase retensi (retention phase), (3) fase reproduksi (reproduction phase), dan (4) fase motivasi (motivasional phase). Nurhadi, dkk (2004:135) berpendapat bahwa teknik pemodelan dalam pembelajaran menjadi strategi kunci. Pemodelan menulis merupakan bagian pengajaran menulis yang penting. Pemodelan dapat berupa contoh-contoh tindakan.  Konsep pemodelan dalam pembelajaran itu adalah (1) membahasakan gagasan yang Anda (guru) pikirkan, (2) mendemonstrasikan bagaimana Anda (guru) menginginkan para siswa untuk belajar dan berperilaku, (3) melakukan apa yang Anda (guru) inginkan agar siswa melakukannya.
            Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran ini guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa mengamati guru membaca dan membolak-balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan membaca scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara tepat. Secara sederhana kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus ini guru sebagai model.
            Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya dalam melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes bahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa ‘contoh’ tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai ‘standar’ kompetensi yang harus dicapai.
            Hasil penelitian ini sangat berharga dan bermanfaat untuk pengelolaan pembelajaran, khususnya untuk guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan umumnya untuk segenap unsur penyelenggara sekolah, khususnya di SMA Negeri 1 Bondowoso.     Secara teoretis banyak hal yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini. Hasil penelitian ini merupakan tambahan konsep teori atau pengetahuan dalam mendasarkan diri ketika menyelenggarakan pembelajaran kompetensi dasar menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskripsi di jejang pendidikan kelas X SMA.
            Guru dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk menambah wawasan teknik pemodelan untuk menyajikan pembelajaran menulis secara tepat dan lengkap, khususnya menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskripsi. Guru dapat mengidentifikasi masalah pembelajaran yang dilakukannya sekaligus mencari solusinya seperti kajian ini,

DAFTAR RUJUKAN
Arend, Ricard I. 2007. Learning to Teach.  Terjemahan oleh Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini, 2008. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Asrori, Mohammad. 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-Teori Balajar. Jakarta: Depdikbud.
Dalyono, M. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA Kelas XI. Jakarta : Erlangga.
Dryden, Gordon dan Jeannette Vos, 2002. Revolusi Cara Belajar. Bandung: Kaifa.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia untuk SMA. Jakarta : Balai Pustaka.
Keraf, Gorys. 1984. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Majid, Abdul, 2005. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurchasanah, 1994. Majalah Vokal : “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulisan Terpadu”. FPBS IKIP Malang.
Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pendidik.
Santoso, Puji, dkk. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas terbuka.
Suparno, dkk. 2006. Ketrampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

Filed in :

0 komentar:

Created by brama
Blogger template. Proudly Powered by Blogger.
back to top